KELAS KATA

 

Kelas Kata - Harimurti Krida Laksana




Menurut Harimurti Krida Laksana kelas kata terbagi menjadi 13 bagian :
  1. Kata kerja (verba)
  2. Kata sifat (adjektiva)
  3. Kata benda (nomina)
  4. Kata ganti (pronomina)
  5. Kata bilangan (numerilia)
  6. Kata keterangan (adverbia)
  7. Kata tanya (interogativa)
  8. Kata tunjuk (demonstrativa)
  9. Kata sandang/sebutan (artikula)
  10. Kata depan (preposisi)
  11. Kata penghubung (konjugsi)
  12. Kategori fatis
  13. Kata seru (interjeksi)

A.      VERBA
Kata dikatakan berkategori verba jika dalam frasa dapat didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan tidak dapat didampingi partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Berdasarkan bentuknya verba dibedakan menjadi:
1.    Verba Dasar Bebas
Adalah verba yang berupa morfem dasar bebas.
Contoh: nonton, makan, mandi, minum, pergi, pulang, lari, loncat.
2.    Verba Turunan
Adalah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Bentuk turunannya, yaitu:
a.    Verba Berafiks
Contoh: berdandan, terbayang, kerinduan, kecelakaan, memasak, bekerja, menjalani.
b.   Verba Bereduplikasi
Contoh: lari-lari, ingat-ingat, maju-maju, semangat-semangat, malas-malas.
c.    Verba Berproses Gabungan
Contoh: bercanda-canda, tersenyum-senyum, terbayang-bayang, berandai-andai.
d.   Verba Majemuk
Contoh: buah tangan, cuci mata, unjuk gigi, adu domba, campur tangan, main hakim.


Subkategorisasi verba dapat dibagi sebagai berikut.
2)        Berdasarkan Banyaknya Nomina yang Mendampingi
a.    Verba Intransitif
b.   Verba Transitif
3)        Berdasarkan Hubungan Verba dengan Nomina
a.    Verba aktif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku, biasanya berprefiks me-, ber-, atau tanpa prefiks.
b.   Verba pasif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil. Biasanya diawali dengan prefiks di- atau ter-. Apabila ditandai dengan prefiks ter- maka bermakna perfektif.
c.    Verba anti-aktif (ergatif), yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjadi verba aktif dan subyeknya merupakan penanggap (menderita, merasakan).
d.   Verba anti-pasif, yaitu verba yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.
4)        Berdasarkan Interaksi antara Nomina Pendampingnya
a.    Verba resiprokal, yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Beberapa bentuk verba resiprokal:
Contoh:            ber+calon verba yang mempunyai sifat resiprokal, contoh: berperang
ber+verba dasar+an, contoh: berpegangan
b.   Verba non-resiprokal, yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.
5)        Berdasarkan Referensi Argumennya
a.    Verba refleksif, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang sama.
b.   Verba non refleksi, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang berlainan.
6)        Berdasarkan Hubungan Identifikasi antara Argumen-argumennya
a.    Verba kopulatif, yaitu verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan.
Contoh: merupakan, adalah.
b.   Verba ekuatif, yaitu verba yang mengungkapkan ciri salah satu argumennya.
Contoh: berjumlah, berlandaskan.
7)        Verba Telis dan Verba Atelis
·         Verba telis menyatakan bahwa perbuatan tuntas atau bersasaran, sedangkan verba atelis menyatakan bahwa perbuatan belum tuntas.
8)        Verba performatif dan verba konstatatif, dibedakan menjadi:
·         verba performatif, yaitu verba dalam kalimat yang secara langsung mengungkapkan pertuturan yang dibuat pembicara pada waktu mengujarkan kalimat.
·         verba konstatif, yaitu verba dalam kalimat yang menyatakan atau mengandung gambaran tentang suatu peristiwa.

B.       Adjektiva
1.        Adjektiva Dasar
2.        Adjektiva Turunan
3.        Ajektiva Majemuk
a.         Subordinatif: kepala dingin, juling bahasa, buta huruf, keras kepala, tipis bibir, sempit hati, patah lidah, panjang akal, cepat lidah, besar mulut, busuk tangan, lupa daratan, dll.
b.        Koordinatif: lemah gemulai, riang gembira, suka duka, lemah lembut, tua muda, senasib seperjuangan, letih lesu, gagah perkasa, aman sentosa, besar kecil, baik buruk, dll.
Subkategorisasi ajektiva, dibagi ke dalam dua macam kategori ajektiva sebagai berikut.
a.         ajektiva predikatif, yaitu ajektiva yang dapat menempati posisi predikat dalam klausa, misalnya susah, hangat, sulit, mahal
b.        ajektiva atributif, yaitu ajektiva yang mendampingi nomina dalam frase nominal, misalnya nasional, niskala
c.         ajektiva bertaraf, yakni yang dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya seperti pekat, makmur
d.        ajektiva tak bertaraf,  yakni yang tidak dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya, seperti nasional, intern.

C.      NOMINA
Nomina adalah kategori yang secara sintaksis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak dan mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Nomina berbentuk:
1.        Nomina dasar, seperti radio, udara, kertas, barat, kemarin, dll.
2.        Nomina turunan, terbagi atas:
a.       Nomina berafiks, seperti keuangan, perpaduan, gerigi.
b.      Nomina reduplikasi, seperti gedung-gedung, tetamu, pepatah.
c.       Nomina hasil gabungan proses, seperti batu-batuan, kesinambungan.
d.      Nomina yang berasal dari pelbagai kelas karena proses:
Contoh: deverbalisasi, seperti pengangguran, pemandian, pengembangan, kebersamaan
3.        Nomina paduan leksem, seperti daya juang, cetak lepas, loncat indah, tertib acara, jejak langkah.
4.        Nomina paduan leksem gabungan, seperti pendayagunaan, ketatabahasaan, pengambilalihan, kejaksaaan tinggi.

Subkategori:
·      Nomina bersenyawa dan tidak bersenyawa
·      Nomina terbilang dan tak terbilang
·      Nomina kolektif dan bukan kolektif

D.      PRONOMINA
Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina, yang digantikan itu disebut anteseden.
Subkategorisasi, pronominal
1.        Dilihat dari hubungannya dengan nomina, yaitu ada atau tidaknya anteseden dalam wacana. Berdasarkan hal itu, dibagi lagi menjadi:
a.    Pronomina Intertekstual, Bila enteseden terdapat sebelum pronomina, itu dikatakan anaforis, sedangkan  bila enteseden muncul sesudah pronomina, hal itu disebut kataforis.
Contoh anaforis: Pak Arif sepupu Bapak. Rumahnya dekat.
b.   Pronomina ekstratekstual, yang menggantikan nomina yang terdapat di luar wacana, bersifat deiktis.
Contoh: Itu yang kukatakan.
2.        Dilihat dari jelas atau tidaknya referennya
a.    Pronomina Taktrif
Pronomina taktrif yaitu menggantikan nomina yang referennya jelas. Pronomina ini terbatas pada pronomina persona.
b.   Pemakaian Pronomina
  • Dalam ragam nonstandar jumlah pronomina lebih banyak daripada yang terdaftar tersebut, karena pemakaian nonstandar tergantung dari daerah pemakaiannya.
  • Dalam bahasa kuna juga terdapat pronomina, seperti baginda.
  • Semua pronomina tersebut hanya dapat mengganti nomina orang, nama orang, atau hal lain yang dipersonifikasikan.
E.       NUMERALIA
Numeralia adalah kategori yang dapat 1) mendamping nomina dalam konstruksi sintaksis, 2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, 3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau sangat.
Subkategorisasi
1.        Numeralia Takrif, Numeralia takrif yaitu numeralia yang menyatakan jumlah yang tentu
a.     Numeralia Utama (kardinal)
b.    Numeralia Tingkat, Adalah numeralia takrif yang melambangkan urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Num. Contoh: Catatan ketiga sudah diperbaiki.
c.    Numeralia Kolektif, Adalah numeralia takrif yang berstruktur ke + Num, ber- + N, ber- + NR, ber- + Num R atau Num + -an.
2.        Numeralia Tak Takrif, Numeralia tak takrif adalah numeralia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya berapa, sekalian, semua, segenap.

F.       ADVERBIA
Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Bentuk adverbia:
1.        Adverbia dasar bebas, contoh: alangkah, agak, akan, belum, bisa.
2.        Adverbia turunan, yang terbagi atas:
a.    Adverbia turunan yang tidak berpindah kelas terdiri dari:
  • Adverbia bereduplikasi, seperti jangan-jangan, lagi-lagi
  • Adverbia gabunga, misalnya tidak boleh tidak
b.    Adverbia turunan yang berasal dari pelbagai kelas:
  • Adverbia berafiks, misalnya terlampau, sekali
  • Adverbia dari kategori lain karena reduplikasi, misalnya akhir-akhir, sendiri-sendiri
c.    Adverbia de-ajektiva, misalnya awas-awas, benar-benar
d.   Adverbia denumeralia, misalnya dua-dua
e.    Adverbia deverbal, kira-kira, tahu-tahu
3.        Adverbia yang terjadi dari gabungan kategori lain dan pronomina, misalnya rasanya, rupanya
4.        Adverbia deverbal gabungan, misalnya ingin benar, tidak terkatakn lagi
5.        Adverbia de ajektival gabungan, misalnya tidak lebih, kerap kali.
6.        Gabunga proses, misalnya : se- +A +-nya: sebaiknya

G.      INTEROGATIVA
Interogativa adalah kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara. Apa yang ingin diketahui dan apa yang dikukuhkan itu disebut antesenden (ada di luar wacana) dan karena baru akan diketahui kemudian, interogativa bersifat kataforis.
1.    Interogativa dasar: apa, bila, bukan, kapan, mana, masa.
2.    Interogativa turunan: apabila, apaan, apa-apaan, bagaimana, bagaimanakah, berapa, betapa, bilamana, bilakah, bukankah, dengan apa, di mana, ke mana, manakah, kenapa, mengapa, ngapain, siapa, yang mana, masakan.
3.    Interogativa terikat: kah dan tah.

H.      DEMONSTRATIVA
Demonstrativa adalah kategori yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu (antesenden) di dalam maupun di luar wacana. Dari sudut bentuk dapat dibedakan berikut ini.
1.        Demonstrativa dasar (itu dan ini)
2.        Demonstrativa turunan (berikut, sekian)
3.        Demonstrativa gabungan (di sini, di situ, di sana, ini itu, sana sini)

I.         ARTIKULA
Artikula dalam bahasa Indonesia adalah kategori yang mendampingi nomina dasar misalnya si kancil, sang matahari, para pelajar, nomina deverbal (si terdakwa, si tertuduh), pronominal (si dia, sang aku), dan verba pasif (kaum tertindas, si tertindas). Artikula berupa partikel, jadi tidak berafiksasi.

Berdasarkan ciri semantis gramatikal artikula dibedakan sebagai berikut.
1.        Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan nomina singularis. (Si, Sang, Sri, Hang dan Dang)
2.        Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan suatu kelompok. (Para, Kaum, Umat).

J.        PREPOSISI
Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frasa eksosentris direktif. Ada tiga jenis preposisi, yaitu sebagai berikut.
1.        Preposisi dasar (tidak dapat mengalami proses morfologis).
2.        Preposisi turunan, terbagi atas:
a.    Gabungan preposisi dan preposisi
b.    Gabungan preposisi dan non-preposisi.
K.      KONJUNGSI

Konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam kontruksi. Konjungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran maupun yang tidak setataran.
Contoh:
(a)   Dia marah karena saya.

(b)   Dia marah karena saya meninggalkannya.
(c)    Adik saya dua orang yaitu Adit dan Byan.
Dalam kalimat (a) karena merupakan preposisi, karena diikuti oleh satuan kata sehingga merupakan konstruksi eksosentris, sedangkan dalam kalimat (b) karena merupakan konjungsi, karena menghubungkan klausa dengan klausa. Dalam kalimat (c) konjungsi yaitu berperan sebagai penghubung klausa dan sekaligus berperan sebagai penunjuk anaforis. Contoh lain adalah begitu dalam kalimat Begitu datang ia langsung menangis.
Menurut posisinya konjungsi dibagi menjadi berikut ini.
1.    Konjungsi Intra-kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan satuan-satuan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa.
2.    Konjungsi Ektra-kalimat,
a.    Konjungsi intratekstual, yaitu menghubungkan kalimat dengan kalimat, atau paragraph dengan paragraph,
b.   Konjungsi ektratekstual, yang menghubungkan dunia di luar bahasa dengan wacana,



L.       KATEGORI FATIS
Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan komunikasi antara pembicara dan lawan bicara. Kelas kata ini terdapat dalam dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam bahasa lisan (non-standar) sehingga kebanyakan kalimat-kalimat non-standar banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional.
Bentuk-bentuk fatis misalnya di awal kalimat Kok kamu melamun?, di tengah kalimat, misalnya Dia kok bisa ya menulis puisi seindah ini?, dan di akhir kalimat, misalnya Aku juga kok! Kategori fatis mempunyai wujud bentuk bebas, misalnya kok, deh, atau selamat, dan wujud bentuk terikat, misalnya –lah atau pun.
Bentuk dan Jenis Kategori Fatis, dapat diuraikan sebagai berikut.
1.        Partikel dan Kata Fatis
Contoh: (Ah, ding, halo, deh, kek, kok dll)
2.        Frase Fatis.
Contoh: Selamat, terimakasih, insya Allah
M.     INTERJEKSI
Interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara: dan secara sintaksis tidak berhubungan dengan kata-katalain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri.
Interjeksi dapat ditemui dalam:
1.    Bentuk dasar, yaitu: aduh, aduhai, ah, ahoi, ai, amboi, asyoi, ayo, bah, cih, cis, eh, hai, idih, ih, lho, oh, nak, sip, wah, wahai, yaaa.
2.    Bentuk tururnan, biasanya berasal dari kata-kata biasa, atau pengalan kalimat Arab, contoh: alhamdulillah, astaga, brengsek, buset, dubilah, duilah, insya Alloh, masyallah, syukur, halo, innalillahi, yahud.
N.      PERTINDIHAN KELAS
Kategori kata sebagaimana disajikan di atas belum dapat dianggap selesai kalau belum memecahkan persoalan yang terdapat dalam contoh berikut:
1.    Kucing saya mati kemarin.
2.    Mati itu bukan akhir segalanya.
3.    Ini harga mati.

Dikutip dari:



Komentar